PILKADA SUMUT 2008
“KAU TAHU, AKU PUN TAHU.
MARI TANYAKAN RUMPUT YANG BERGOYAN”G
Sebagai salah satu perwujudan demokrasi di
Seperti yang kita ketahui bersama, sebelum era reformasi, penentuan siapa yang menjadi kepala daerah akan di monopoli oleh pusat (pemerintah pusat/presiden). Pemimpin daerah atau kepala daerah yang di tunjuk itu pun cenderung di pilih berdasarkan kepentingan atau lobi-lobi politis. Teapi bukan itu persoalan yang ingin saya wacanakan pada tulisan ini.
Seorang pemimpin daerah tidak cukup hanya memiliki kualitas yang unggul saja, kepala daerah harus meiliki juga aspek yang saya istilah
Pemimpin daerah (kepala daerah) harus menjadi bagian dari masyarakat karena memang dia adalah pengayom masyarkat. Dan penghayom yang baik adalha orang yang mengenal betul siapa yang di ayomi nya. Memang itulah esensi sebenarnya mengapa pilkada harus tetap dipertahankan dalam memilih pemimpin daerah.
Kita ambil contoh Pilkada di Sumatera Utara, dengan berbagai ragam suku yang ada Sumatera Utara, maka yang dibutuhkan adalah sosok pemimpin yang memang paham betul dengan daerah dan karakteristik masyarakat daerah tersebut. masyareakat pun tentunya mengharapkan pemimpin yang memiliki kriteria seperti itu.
Orang sumut yang memiliki kekhasan budaya yang sangat menonjol yaitu gabungan antara Melayu dan batak. Sehingga suku pendatang pun akhirnya banyak yang terbawa-bawa mengikuti karakteristik dari dua kebudayaan ini. Sistem berkehidupan serta sosial yang sangat membumi di tanah sumatera ini menciptakan pengaruh yang kuat bagi tatanan sosiologis masyarakat sumatera utara.
Lihat saja perbandingan sikap dan gerak-gerik para calon gubernur Sumatera Utara, dan bandingkan juga perolehan suara yang didapat oleh semua calon. Kita akan menemukan sebuah hasil yang cukup menarik dan sedikit membuktikan teori saya dalam memandang seorang pemimpin yang akan mendulang simpati masyarakat.
Kita tahu seperti apa seorang Syamsul Arifin dan abd. Wahab dalimunthe yang cenderung santai ramah dan tidak susah untuk bertemu denga kedua orang ini. Sikap santai yang ditunjukkan oleh syamsul mengingatkan kita kepada sosok anak melayu yang cenderung santai namun cerdas dalam mengatur strategi perang. Tidak mau rugi dan dermawan. Begitu juga abd. Wahab yang juga dilahirkan di tanah melayu labuhan batu dan lebih mirip tingkahnya seperti orang melayu ketimbang mandailing. Sosok seperti kedua orang inilah yang paling dapat menerima simpati masyarakat sumatera utara yang beragama islam. Kedua calon ini pun merekrut Tim sukses yang memang benar-benar paham dengan poltik serta memahami bagaimana cara “menjuial” calon nya kepada masyarakat.
Dan juga bandingkan dengan calon lain yang beragama islam seperti Ali Umri, walaupun seorang putera Melayu, namun sudah tidak nampak lagi kekhasan melayu nya. Beliau cenderung terlalu serius dan sangat susah untuk dapat menemui nya. aak kaku dan tidak terlihat santai, atau kalau istilah saya terlalu birokrat. Dengan sikap dan
Dengan hasil yang menunjukkan kemenangan Syamsul Arifin, tentunya menjadi pelajaran politik berharga bagi kita, bagaimana sebenarnya politik yang dapat memenangkan Pilkada di sumatera Utara. Tidak ada yang pasti ataupun abadi di poltik, tinggal bagaimana cara “mengolahnya” dan siapa yang dipercayakan dalam mengolah, jangan sombong dan ramahlah dalam bersikap. bukan begitu kawan……
Selamat buat abangda Syamsul Arifin, SE
Dari
Ikhvan Fuady, SE
“TAKKAN HILANG MELAYU DI BUMI”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar