“ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur”. (QS. AL-HADID : 20).
Pernahkah kita tertegun dengan kelakuan kita yang sebenarnya telah berlebihan dan sangat menyimpang dari akhlak seorang muslim ?, atau pernahkah kita menyadari kesalahan yang sengaja kita perbuat hanya demi kepentingan pribadi ?. tentunya pertanyaan diatas hanya diri kita sendirilah yang dapat menjawabnya.
Semua sebutan untuk dunia pada ayat di atas mengandung makna persaingan. Permainan apapun modelnya pasti memiliki pesaing untuk menjadi yang terbaik. Perhiasan untuk mendapatkannya juga pasti akan bersaing dengan orang lain. Bangga-banggaan pasti harus memiliki sesuatu untuk dibanggakan, yang juga harus diraih dengan perjuangan yang tidak mudah. Pun pula berbanyak-banyak harta dan anak, justru disitulah inti persaingan yang paling dahsyat dimuka bumi ini.
Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa terkadang unutk mencapai kesemuanya itu kita telah banyak melampaui batas ?. Begitu banyak kesalahan dan perbuatan yang terlalu bersifat duniawi yang diperbuat manusia, padahal mereka tahu bahwa tidak ada di dunia yang abadi. Tapi entah mengapa manusia selalu berlomba untuk kepentingan ini dan kepentingan itu dan untuk mendapatkan semua keinginan nya maka semua akan dilakukan tanpa pernah memikirkan betapa melampaui batasnya perbuatan mereka.
Allah berfirman : “ketahuilah! sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembalimu”. (QS. Al-Alaq : 6-8).
Dari ayat ini kita mendapat sebuah penegasan Allah mengenai keteledoran dan kebodohan orang-orang yang menyangka bahwa semua yang dimilikinya didunia ini akan dapat membawa dirinya kepada keselamatan dunia dan akhirat, betapa fana dan sementaranya kehidupan sehingga tidaklah pantas dijadikan sebuah tujuan utama dalam kehidupan yang bersifat sementara di alam dunia yang penuh dengan sandiwara ini. Semua kemewahan fisik jika tidak diimbangi dengan kekayaan metafisik yang ditujukan demi mentauhidkan Allah hanya akan membawa kepada kesesatan belaka.
Kita bahkan terkadang tidak menyadari bahwa pekerjaan dan perbuatan kita dalam menghasilkan kekayaan didunia ini sudah melanggar batas dan ketentuan halal yang ditentukan oleh Allah. Sebagai manusia sangat mudah untuk tergoda dalam mengejar sesuatu yang dianggap dapat menaikkan derjat didunia tetapi tanpa kita sadari itu semua hanya menambah kehinaan kita dihadapan Allah. Dengan banyak nya sumbangan dan santunan yang kita berikan belum tentu mendapat ridha Allah sebab sumber yang tidak halal tidak akan menjadikan harta yang dimiliki itu akan di ridhai Allah.
Berebut kekuasaan, jabatan, dan apapun namanya demi mengejar sebuah prestise yang katanya kemampuan aktualisasi diri pada tingkatan hirarki kebutuhan yang sebenarnya tidaklah terlalu perlu bagi kehidupan manusia, kita terlanjur terdogma dengan pemikiran kapitalis barat yang sifatnya individualistis , sementara itu sangat bertentangan dengan islam yang mengajarkan bahwa didalam setiap harta orang muslim itu terdapat harta orang lain. Dan kita juga terkadang mengkhianati Allah dengan tidak mengakui bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah Swt.
Semangat dzikir harus lebih ditanamkan dalam hati dan diaktualisasikan dalam setiap tindakan yang dimulai dengan “bismillahirrahmannirrahim” agar segala perbuatan yang dilakukan akan mencerminkan tugas manusia yang diberikan Allah kepada manusia yakni sebagai “khalifah ‘ilal ardh”. Islam sebagai agama tidak hanya mengajarkan kehidupan horizontal tetapi juga mengajarkan kehidupan vertikal bagi manusia dengan Al-Quran dan hadits sebagai penuntun hingga akhir zaman, oleh karena itu islam juga dapat dijadikan acuan bagi manusia sebagai makhluk sosial yang sangat bergantung dengan makhluk lainnya.
Kita bahkan terkadang tidak menyadari bahwa pekerjaan dan perbuatan kita dalam menghasilkan kekayaan didunia ini sudah melanggar batas dan ketentuan halal yang ditentukan oleh Allah. Sebagai manusia sangat mudah untuk tergoda dalam mengejar sesuatu yang dianggap dapat menaikkan derjat didunia tetapi tanpa kita sadari itu semua hanya menambah kehinaan kita dihadapan Allah. Dengan banyak nya sumbangan dan santunan yang kita berikan belum tentu mendapat ridha Allah sebab sumber yang tidak halal tidak akan menjadikan harta yang dimiliki itu akan di ridhai Allah.
Berebut kekuasaan, jabatan, dan apapun namanya demi mengejar sebuah prestise yang katanya kemampuan aktualisasi diri pada tingkatan hirarki kebutuhan yang sebenarnya tidaklah terlalu perlu bagi kehidupan manusia, kita terlanjur terdogma dengan pemikiran kapitalis barat yang sifatnya individualistis , sementara itu sangat bertentangan dengan islam yang mengajarkan bahwa didalam setiap harta orang muslim itu terdapat harta orang lain. Dan kita juga terkadang mengkhianati Allah dengan tidak mengakui bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah Swt.
Semangat dzikir harus lebih ditanamkan dalam hati dan diaktualisasikan dalam setiap tindakan yang dimulai dengan “bismillahirrahmannirrahim” agar segala perbuatan yang dilakukan akan mencerminkan tugas manusia yang diberikan Allah kepada manusia yakni sebagai “khalifah ‘ilal ardh”. Islam sebagai agama tidak hanya mengajarkan kehidupan horizontal tetapi juga mengajarkan kehidupan vertikal bagi manusia dengan Al-Quran dan hadits sebagai penuntun hingga akhir zaman, oleh karena itu islam juga dapat dijadikan acuan bagi manusia sebagai makhluk sosial yang sangat bergantung dengan makhluk lainnya.
Nabi Muhammad SAW, pernah diriwayatkan berkata : “serahkan sedekahmu sebelum datang suatu masa ketika engkau berkeliling menawarkan sedekahmu. Orang-orang miskin akan menolaknya seraya berkata : “hari ini kami tidak perlu bantuanmu, yang kami perlukan darahmu”.
Kini sudah sangat mendesak bagi kita untuk menggalakkan solidaritas sosial. Keterlambatan kita akan berakibat sangat fatal. Tidakkah kita menangkap pandangan tajam dari orang-orang yang frustasi – karena tidak mendapat pekerjaan, kehilangan usaha kecilnya akibat persaingan yang sangat ganas, tidak diterima dilembag-lembaga pendidikan, atau harus merelakan tanah dan rumahnya digusur demi pembangunan.(jalaluddin rakhmat, islam aktual).
Wacana kang jalaluddin rakhmat diatas tentunya menggambarkan sebuah fenomena sosial yang dihadapi apabila oarng-orang yang sedang berada “diatas” terlalu menikmati dan mementingkan kepentingan pribadinya saja sehingga akibatnya orang-orang yang berada “dibawah” akan sangat susah untuk mendapatkan apa yang benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan didunia ini. Yang besar “memakan yang kecil”, yang kaya melindas yang miskin dan yang kuat menggusur yang lemah.. apakah ini harapan kita dalam menjaga kehidupan tatanan sosial manusia ? dan apakah ini implikasi “kejarlah duniamu seolah-olah kau hidup selamanya?. Sebagai umat islam kita telah dibatasi dengan kalimat “kejarlah akhiratmu seolah-olah kau mati besok” yang artinya adalah keseimbangan yang ingin ditanamkan didalam setiap kepribadian umat yang selalu hidup didalam tatanan sosial berperadaban.
Dunia bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah ujian bagi manusia. Kekayaan dan kemiskinan adalah sebuah test bagi kesabaran dan mental bagi seorang muslim dalam imannya kepada tuhan. Apa kita harus gagal dalam ujian itu? Tentunya kita sendiri yang dapat menjawabnya. Bila anda memiliki kenikmatan, anda diharapkan dapat membagi kenikmatan itu dengan orang lain, ini di contohkan islam melalui ibadah qurban dan ibadah puasa mengajak anda merasakan kelaparan sebagaimana orang miskin yang lapar, ini artinya islam memiliki semangat sosial dan kebersamaan yang sangat tinggi.
Sebagai agama “rahmatan lil alamin”, islam telah membawa ajaran untuk menghargai sesama dan selalu memperhatikan keseimbangan kehidupan. Ajaran-ajaran dan pemikiran-pemikiran individualistis kapitalis hanya mengakibatkan kehancuran bagi tatanan keseimbangan yang lebih ideal bagi kehidupan makhluk di atas muka bumi. Maksudnya dengan pemikiran individualistis maka akan menyebabkan eksploitasi besar-besaran dimuka bumi, dan bahkan eksploitasi manusia yang dilakukan oleh manusia.
Konteks hidup Cuma sebentar bukan lah membatasi manusia dalam mengaktualisasikan diri selama didunia, malah mendorong manusia untuk lebih menghargai hidupnya agar dia bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Tindakan yang melampaui batas yang membawa kepada kemudharatan dalam mencari harta dan kekayaan pun akan lebih bisa untuk diketepikan dengan mengingat fungsi manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Sah-sah saja mencari kekayaan dan harta sebab hal itu juga merupakan anjuran islam karena kemiskinan akan lebih dekat kepada kekufuran, tetapi bukan berarti dengan segala cara.
Kedudukan, jabatan, posisi juga bukanlah prioritas utama oleh Allah di akhirat nanti, malahan itu dapat menjadi ganjalan ketika perbuatan maupun tindakan selama memegang amanah ternyata membawa aniaya bagi orang lain. Introspeksi yang dibarengi dzikir serta lebih istiqomah dalam mengemban amanah tentunya dapat lebih membawa kemaslahatan daripada kemudharatan di atas dunia.
Wacana kang jalaluddin rakhmat diatas tentunya menggambarkan sebuah fenomena sosial yang dihadapi apabila oarng-orang yang sedang berada “diatas” terlalu menikmati dan mementingkan kepentingan pribadinya saja sehingga akibatnya orang-orang yang berada “dibawah” akan sangat susah untuk mendapatkan apa yang benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan didunia ini. Yang besar “memakan yang kecil”, yang kaya melindas yang miskin dan yang kuat menggusur yang lemah.. apakah ini harapan kita dalam menjaga kehidupan tatanan sosial manusia ? dan apakah ini implikasi “kejarlah duniamu seolah-olah kau hidup selamanya?. Sebagai umat islam kita telah dibatasi dengan kalimat “kejarlah akhiratmu seolah-olah kau mati besok” yang artinya adalah keseimbangan yang ingin ditanamkan didalam setiap kepribadian umat yang selalu hidup didalam tatanan sosial berperadaban.
Dunia bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah ujian bagi manusia. Kekayaan dan kemiskinan adalah sebuah test bagi kesabaran dan mental bagi seorang muslim dalam imannya kepada tuhan. Apa kita harus gagal dalam ujian itu? Tentunya kita sendiri yang dapat menjawabnya. Bila anda memiliki kenikmatan, anda diharapkan dapat membagi kenikmatan itu dengan orang lain, ini di contohkan islam melalui ibadah qurban dan ibadah puasa mengajak anda merasakan kelaparan sebagaimana orang miskin yang lapar, ini artinya islam memiliki semangat sosial dan kebersamaan yang sangat tinggi.
Sebagai agama “rahmatan lil alamin”, islam telah membawa ajaran untuk menghargai sesama dan selalu memperhatikan keseimbangan kehidupan. Ajaran-ajaran dan pemikiran-pemikiran individualistis kapitalis hanya mengakibatkan kehancuran bagi tatanan keseimbangan yang lebih ideal bagi kehidupan makhluk di atas muka bumi. Maksudnya dengan pemikiran individualistis maka akan menyebabkan eksploitasi besar-besaran dimuka bumi, dan bahkan eksploitasi manusia yang dilakukan oleh manusia.
Konteks hidup Cuma sebentar bukan lah membatasi manusia dalam mengaktualisasikan diri selama didunia, malah mendorong manusia untuk lebih menghargai hidupnya agar dia bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Tindakan yang melampaui batas yang membawa kepada kemudharatan dalam mencari harta dan kekayaan pun akan lebih bisa untuk diketepikan dengan mengingat fungsi manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Sah-sah saja mencari kekayaan dan harta sebab hal itu juga merupakan anjuran islam karena kemiskinan akan lebih dekat kepada kekufuran, tetapi bukan berarti dengan segala cara.
Kedudukan, jabatan, posisi juga bukanlah prioritas utama oleh Allah di akhirat nanti, malahan itu dapat menjadi ganjalan ketika perbuatan maupun tindakan selama memegang amanah ternyata membawa aniaya bagi orang lain. Introspeksi yang dibarengi dzikir serta lebih istiqomah dalam mengemban amanah tentunya dapat lebih membawa kemaslahatan daripada kemudharatan di atas dunia.
Penutup
Pengakuan yang didapat didunia bukan lah acuan bagi pengakuan Allah di akhirat nanti, keikhlasan dalam melakukan ibadah serta selalu mengingat fungsi manusia sebagai khilafah ‘ilal ardh akan menciptakan motivasi positif dalam setiap perbuatan. Janganlah melampaui batas dalam mengejar sesuatu yang fana sebab Allah tempat kembali sesungguhnya bagi manusia. Ikhlas dalam mengemban amanah dan selalu istiqomah dalam perbuatan akan menghindarkan diri dari kemunafikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar