Di dalam sebuah tulisan Soe Hok Gieyang berjudul “siapakah saya?”, Gie pernah melukiskan pengalaman nya menonton sebuah film cekoslovakia yang menceritakan tentang seorang seorang penjaga gudang yang sebenarnya adalah seorang dokter. Dia menolong seorang korban perang dengan mengambil resiko bahwa dia dapat ditangkap karena melakukan hal itu. Tetapi ketika sang dokter di tanya oleh yang menangkapnya, sang dokter pun berkata : “the man is as he thinks,you can change it” (seorang manusia adalah seperti apa yang dipikirkannya,kau tak dapat merubah hal itu).Banyak peristiwa dan hal yang serupakejadian yang digambarkan oleh film tersebut yang masih banyak terjadi didunia ini, hanya saja setting dan para lakon nya saja yang berubah. Sebuah keidealisan manusia yang dibawanya dari lahir adalah sebuah kejujuran yang tulus yang memang tak dapatdirubah dengan begitu mudah. Walauterkadang begitu banyak godaan sertakepentingan yang dapat menghilangkan semua keidealisan seorang manusia.Pada kenyataannya banyak hal-hal ataupun motivasi dari seseorang untuk melakukan sesuatu yang mungkin tidak dapat di mengerti jika kita hanya melihat dari satu sisi saja. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan olehsang “idealitor” memang terkadang terlihat berlebihan dan sama sekalitak berorientasi kepada keuntungan(profit). Dorongan nurani serta moralitas yang tinggi sangat dapat mempengaruhi dari tindakan yang menjadikan seseorang sebagai pahlawan. Sepenggal kisah ini juga menyimpulkan bahwa manusia terkadang dihadapkankepada pilihan-pilihan, dan pilihanyang paling baik adalah pilihan yang sesuai dengan keinginan kita sendiri.Jiwa dokter yang menjadi penjaga gudang tiba-tiba bangun dan berkatabahwa “aku adalah seorang dokter”sehhingga sang penjaga gudang (yangsebenarnya adalah dokter) memutuskanuntuk menolong orang yang sedang sakittersebut. Pilihan ini memperlihatkansebuah pilihan yang dipilih olehseseorang dengan berlandaskan kepadanurani seorang manusia.Manusia ideal adalah manusia beragamayang bebas, bertindak dengan memiliki moralitas dan menggunakan nurani mereka. Manusia yang hidup danmenjalani kehidupannya sesuai denganperintah orang lain adalahmanusia “terpenjara” yang dipaksamembunuh hati nuraninya dan bertindakseperti boneka.“saya kan Bawahan, yah ikut perintah Atasan dong”, adalah kalimat yangtetap digunakan sebagai alasan ketika seorang bawahan ditanya mengapa diamelakukan hal-hal yang jelas-jelasmerupakan sebuah manipulasi. Dia hanyabisa mengikuti apa perintah atasannya tanpa pernah bisa mengikuti hati nurani nya lagi. dia adalah “sample”dari sebagian besar manusia yang adadi dunia ini.Seorang ketua/Fungsionaris DPP atauDPD Ormas atau pun OKM (organisasi kemahasiswaan, istilah gue) yangdijadikan sekretaris eksekutif,anggota eksekutif dan lain-lain darisebuah partai membiarkan dirinyadiperalat oleh bapak-bapak di partai,dia terpaksa meninggalkan nuraninya dan menjadi sebuah alat untukmenyalurkan nafsu, hasrat dankepentingan politik dari sebuah sumber kekuasaan yang juga mungkin sumber keuangan baginya.Atau seorang aktifis yang selalu patuhdan taat kepada Dekanat maupunRektorat sebab ia telah menjadi seorang dosen di sebuah perguruan tinggi yang juga tempat dimana ia menuntut ilmu, lalu menggunakan pengaruhnya untuk membungkam danmemberikan sebuah pengetahuan yang salah kepada adik-adik junior diorganisasinya, bahwa pemerasanterhadap mahasiswa itu adalah sesuatu yang benar dan hal-hal lainnya. Atauseorang dosen pintar yang menganut prinsip “asal bapak senang saya siap untuk melaksanakan”, dan jika ditanyamengapa beliau melaksanakan hal-hal manipulasi, ia hanya bisaberkata “saya kan pekerja, saya gak tahu politik, yah saya ikut atasandong!”.Manusia Indonesia terlalu banyak merasionalisasikan kepengecutan nya dengan kepatuhan, hanya terdiam danbahkan malah ikut terlibat didalam sebuah kesalahan dengan mengatasnamakan “orang kecil”, “orang bawahan”.Orang yang selalu berpikiran sempitdan selalu merasionalisasikan kepengecutannya adalah orang yangtelah membunuh hati nuraninya, dia menjadi seseorang yang mungkin didalampikiranya bahwa “aku adalah sepertiini” maka dia akan seperti itu dantidak dapat menemukan siapa sebenarnya diri nya.Kapan kita punya pilihan jika kitabelum pernah menentukan pilihantersebut. Kapan kita bisa melihatkebenaran jika kita tak sanggupberpisah dari kesalahan.
Mari kita bertanyaApakah saya ini antek partai?Apakah saya ini antek seseorang?Apakah saya ini antek setan?Atau lebih Ringkas bahwa saya adalah antek uang!Kemana uang, yang jelas kesanalah saya!
Selasa, 18 Desember 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar