BONGKAR
BY : IWAN FALS
Chord :Em C , C Em , G Am C EM
Kalau cinta sudah dibuang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperkuda jabatan
O o ya o ya o ya bongkar
Sabar-sabar-sabar dan tunggu
Itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus kejalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang
O o ya o ya o ya bongkar…………..4 X
Penindasan serta kesewenang-wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan……. hentikan jangan diteruskan
Kami muak dengan ketidakpastian…… dan keserakahan
Dijalanan kami sandarkan cita-cita
Sebab di ruang tak ada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta
o..uwoo
O o ya o ya o ya bongkar…………..4 X
Penindasan serta kesewenang-wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan……. hentikan jangan diteruskan
Kami muak dengan ketidakpastian…… dan keserakahan
O o ya o ya o ya bongkar…………..4 X
Dijalanan kami sandarkan cita-cita
Sebab di ruang tak ada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta
O o ya o ya o ya bongkar…………..4 X
Minggu, 23 Desember 2007
JIKA DUNIA INI SEBENTAR, MENGAPA SANGAT SULIT UNTUK MENINGGALKANNYA ?
“ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur”. (QS. AL-HADID : 20).
Pernahkah kita tertegun dengan kelakuan kita yang sebenarnya telah berlebihan dan sangat menyimpang dari akhlak seorang muslim ?, atau pernahkah kita menyadari kesalahan yang sengaja kita perbuat hanya demi kepentingan pribadi ?. tentunya pertanyaan diatas hanya diri kita sendirilah yang dapat menjawabnya.
Semua sebutan untuk dunia pada ayat di atas mengandung makna persaingan. Permainan apapun modelnya pasti memiliki pesaing untuk menjadi yang terbaik. Perhiasan untuk mendapatkannya juga pasti akan bersaing dengan orang lain. Bangga-banggaan pasti harus memiliki sesuatu untuk dibanggakan, yang juga harus diraih dengan perjuangan yang tidak mudah. Pun pula berbanyak-banyak harta dan anak, justru disitulah inti persaingan yang paling dahsyat dimuka bumi ini.
Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa terkadang unutk mencapai kesemuanya itu kita telah banyak melampaui batas ?. Begitu banyak kesalahan dan perbuatan yang terlalu bersifat duniawi yang diperbuat manusia, padahal mereka tahu bahwa tidak ada di dunia yang abadi. Tapi entah mengapa manusia selalu berlomba untuk kepentingan ini dan kepentingan itu dan untuk mendapatkan semua keinginan nya maka semua akan dilakukan tanpa pernah memikirkan betapa melampaui batasnya perbuatan mereka.
Allah berfirman : “ketahuilah! sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembalimu”. (QS. Al-Alaq : 6-8).
Dari ayat ini kita mendapat sebuah penegasan Allah mengenai keteledoran dan kebodohan orang-orang yang menyangka bahwa semua yang dimilikinya didunia ini akan dapat membawa dirinya kepada keselamatan dunia dan akhirat, betapa fana dan sementaranya kehidupan sehingga tidaklah pantas dijadikan sebuah tujuan utama dalam kehidupan yang bersifat sementara di alam dunia yang penuh dengan sandiwara ini. Semua kemewahan fisik jika tidak diimbangi dengan kekayaan metafisik yang ditujukan demi mentauhidkan Allah hanya akan membawa kepada kesesatan belaka.
Kita bahkan terkadang tidak menyadari bahwa pekerjaan dan perbuatan kita dalam menghasilkan kekayaan didunia ini sudah melanggar batas dan ketentuan halal yang ditentukan oleh Allah. Sebagai manusia sangat mudah untuk tergoda dalam mengejar sesuatu yang dianggap dapat menaikkan derjat didunia tetapi tanpa kita sadari itu semua hanya menambah kehinaan kita dihadapan Allah. Dengan banyak nya sumbangan dan santunan yang kita berikan belum tentu mendapat ridha Allah sebab sumber yang tidak halal tidak akan menjadikan harta yang dimiliki itu akan di ridhai Allah.
Berebut kekuasaan, jabatan, dan apapun namanya demi mengejar sebuah prestise yang katanya kemampuan aktualisasi diri pada tingkatan hirarki kebutuhan yang sebenarnya tidaklah terlalu perlu bagi kehidupan manusia, kita terlanjur terdogma dengan pemikiran kapitalis barat yang sifatnya individualistis , sementara itu sangat bertentangan dengan islam yang mengajarkan bahwa didalam setiap harta orang muslim itu terdapat harta orang lain. Dan kita juga terkadang mengkhianati Allah dengan tidak mengakui bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah Swt.
Semangat dzikir harus lebih ditanamkan dalam hati dan diaktualisasikan dalam setiap tindakan yang dimulai dengan “bismillahirrahmannirrahim” agar segala perbuatan yang dilakukan akan mencerminkan tugas manusia yang diberikan Allah kepada manusia yakni sebagai “khalifah ‘ilal ardh”. Islam sebagai agama tidak hanya mengajarkan kehidupan horizontal tetapi juga mengajarkan kehidupan vertikal bagi manusia dengan Al-Quran dan hadits sebagai penuntun hingga akhir zaman, oleh karena itu islam juga dapat dijadikan acuan bagi manusia sebagai makhluk sosial yang sangat bergantung dengan makhluk lainnya.
Kita bahkan terkadang tidak menyadari bahwa pekerjaan dan perbuatan kita dalam menghasilkan kekayaan didunia ini sudah melanggar batas dan ketentuan halal yang ditentukan oleh Allah. Sebagai manusia sangat mudah untuk tergoda dalam mengejar sesuatu yang dianggap dapat menaikkan derjat didunia tetapi tanpa kita sadari itu semua hanya menambah kehinaan kita dihadapan Allah. Dengan banyak nya sumbangan dan santunan yang kita berikan belum tentu mendapat ridha Allah sebab sumber yang tidak halal tidak akan menjadikan harta yang dimiliki itu akan di ridhai Allah.
Berebut kekuasaan, jabatan, dan apapun namanya demi mengejar sebuah prestise yang katanya kemampuan aktualisasi diri pada tingkatan hirarki kebutuhan yang sebenarnya tidaklah terlalu perlu bagi kehidupan manusia, kita terlanjur terdogma dengan pemikiran kapitalis barat yang sifatnya individualistis , sementara itu sangat bertentangan dengan islam yang mengajarkan bahwa didalam setiap harta orang muslim itu terdapat harta orang lain. Dan kita juga terkadang mengkhianati Allah dengan tidak mengakui bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah Swt.
Semangat dzikir harus lebih ditanamkan dalam hati dan diaktualisasikan dalam setiap tindakan yang dimulai dengan “bismillahirrahmannirrahim” agar segala perbuatan yang dilakukan akan mencerminkan tugas manusia yang diberikan Allah kepada manusia yakni sebagai “khalifah ‘ilal ardh”. Islam sebagai agama tidak hanya mengajarkan kehidupan horizontal tetapi juga mengajarkan kehidupan vertikal bagi manusia dengan Al-Quran dan hadits sebagai penuntun hingga akhir zaman, oleh karena itu islam juga dapat dijadikan acuan bagi manusia sebagai makhluk sosial yang sangat bergantung dengan makhluk lainnya.
Nabi Muhammad SAW, pernah diriwayatkan berkata : “serahkan sedekahmu sebelum datang suatu masa ketika engkau berkeliling menawarkan sedekahmu. Orang-orang miskin akan menolaknya seraya berkata : “hari ini kami tidak perlu bantuanmu, yang kami perlukan darahmu”.
Kini sudah sangat mendesak bagi kita untuk menggalakkan solidaritas sosial. Keterlambatan kita akan berakibat sangat fatal. Tidakkah kita menangkap pandangan tajam dari orang-orang yang frustasi – karena tidak mendapat pekerjaan, kehilangan usaha kecilnya akibat persaingan yang sangat ganas, tidak diterima dilembag-lembaga pendidikan, atau harus merelakan tanah dan rumahnya digusur demi pembangunan.(jalaluddin rakhmat, islam aktual).
Wacana kang jalaluddin rakhmat diatas tentunya menggambarkan sebuah fenomena sosial yang dihadapi apabila oarng-orang yang sedang berada “diatas” terlalu menikmati dan mementingkan kepentingan pribadinya saja sehingga akibatnya orang-orang yang berada “dibawah” akan sangat susah untuk mendapatkan apa yang benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan didunia ini. Yang besar “memakan yang kecil”, yang kaya melindas yang miskin dan yang kuat menggusur yang lemah.. apakah ini harapan kita dalam menjaga kehidupan tatanan sosial manusia ? dan apakah ini implikasi “kejarlah duniamu seolah-olah kau hidup selamanya?. Sebagai umat islam kita telah dibatasi dengan kalimat “kejarlah akhiratmu seolah-olah kau mati besok” yang artinya adalah keseimbangan yang ingin ditanamkan didalam setiap kepribadian umat yang selalu hidup didalam tatanan sosial berperadaban.
Dunia bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah ujian bagi manusia. Kekayaan dan kemiskinan adalah sebuah test bagi kesabaran dan mental bagi seorang muslim dalam imannya kepada tuhan. Apa kita harus gagal dalam ujian itu? Tentunya kita sendiri yang dapat menjawabnya. Bila anda memiliki kenikmatan, anda diharapkan dapat membagi kenikmatan itu dengan orang lain, ini di contohkan islam melalui ibadah qurban dan ibadah puasa mengajak anda merasakan kelaparan sebagaimana orang miskin yang lapar, ini artinya islam memiliki semangat sosial dan kebersamaan yang sangat tinggi.
Sebagai agama “rahmatan lil alamin”, islam telah membawa ajaran untuk menghargai sesama dan selalu memperhatikan keseimbangan kehidupan. Ajaran-ajaran dan pemikiran-pemikiran individualistis kapitalis hanya mengakibatkan kehancuran bagi tatanan keseimbangan yang lebih ideal bagi kehidupan makhluk di atas muka bumi. Maksudnya dengan pemikiran individualistis maka akan menyebabkan eksploitasi besar-besaran dimuka bumi, dan bahkan eksploitasi manusia yang dilakukan oleh manusia.
Konteks hidup Cuma sebentar bukan lah membatasi manusia dalam mengaktualisasikan diri selama didunia, malah mendorong manusia untuk lebih menghargai hidupnya agar dia bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Tindakan yang melampaui batas yang membawa kepada kemudharatan dalam mencari harta dan kekayaan pun akan lebih bisa untuk diketepikan dengan mengingat fungsi manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Sah-sah saja mencari kekayaan dan harta sebab hal itu juga merupakan anjuran islam karena kemiskinan akan lebih dekat kepada kekufuran, tetapi bukan berarti dengan segala cara.
Kedudukan, jabatan, posisi juga bukanlah prioritas utama oleh Allah di akhirat nanti, malahan itu dapat menjadi ganjalan ketika perbuatan maupun tindakan selama memegang amanah ternyata membawa aniaya bagi orang lain. Introspeksi yang dibarengi dzikir serta lebih istiqomah dalam mengemban amanah tentunya dapat lebih membawa kemaslahatan daripada kemudharatan di atas dunia.
Wacana kang jalaluddin rakhmat diatas tentunya menggambarkan sebuah fenomena sosial yang dihadapi apabila oarng-orang yang sedang berada “diatas” terlalu menikmati dan mementingkan kepentingan pribadinya saja sehingga akibatnya orang-orang yang berada “dibawah” akan sangat susah untuk mendapatkan apa yang benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan didunia ini. Yang besar “memakan yang kecil”, yang kaya melindas yang miskin dan yang kuat menggusur yang lemah.. apakah ini harapan kita dalam menjaga kehidupan tatanan sosial manusia ? dan apakah ini implikasi “kejarlah duniamu seolah-olah kau hidup selamanya?. Sebagai umat islam kita telah dibatasi dengan kalimat “kejarlah akhiratmu seolah-olah kau mati besok” yang artinya adalah keseimbangan yang ingin ditanamkan didalam setiap kepribadian umat yang selalu hidup didalam tatanan sosial berperadaban.
Dunia bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah ujian bagi manusia. Kekayaan dan kemiskinan adalah sebuah test bagi kesabaran dan mental bagi seorang muslim dalam imannya kepada tuhan. Apa kita harus gagal dalam ujian itu? Tentunya kita sendiri yang dapat menjawabnya. Bila anda memiliki kenikmatan, anda diharapkan dapat membagi kenikmatan itu dengan orang lain, ini di contohkan islam melalui ibadah qurban dan ibadah puasa mengajak anda merasakan kelaparan sebagaimana orang miskin yang lapar, ini artinya islam memiliki semangat sosial dan kebersamaan yang sangat tinggi.
Sebagai agama “rahmatan lil alamin”, islam telah membawa ajaran untuk menghargai sesama dan selalu memperhatikan keseimbangan kehidupan. Ajaran-ajaran dan pemikiran-pemikiran individualistis kapitalis hanya mengakibatkan kehancuran bagi tatanan keseimbangan yang lebih ideal bagi kehidupan makhluk di atas muka bumi. Maksudnya dengan pemikiran individualistis maka akan menyebabkan eksploitasi besar-besaran dimuka bumi, dan bahkan eksploitasi manusia yang dilakukan oleh manusia.
Konteks hidup Cuma sebentar bukan lah membatasi manusia dalam mengaktualisasikan diri selama didunia, malah mendorong manusia untuk lebih menghargai hidupnya agar dia bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Tindakan yang melampaui batas yang membawa kepada kemudharatan dalam mencari harta dan kekayaan pun akan lebih bisa untuk diketepikan dengan mengingat fungsi manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Sah-sah saja mencari kekayaan dan harta sebab hal itu juga merupakan anjuran islam karena kemiskinan akan lebih dekat kepada kekufuran, tetapi bukan berarti dengan segala cara.
Kedudukan, jabatan, posisi juga bukanlah prioritas utama oleh Allah di akhirat nanti, malahan itu dapat menjadi ganjalan ketika perbuatan maupun tindakan selama memegang amanah ternyata membawa aniaya bagi orang lain. Introspeksi yang dibarengi dzikir serta lebih istiqomah dalam mengemban amanah tentunya dapat lebih membawa kemaslahatan daripada kemudharatan di atas dunia.
Penutup
Pengakuan yang didapat didunia bukan lah acuan bagi pengakuan Allah di akhirat nanti, keikhlasan dalam melakukan ibadah serta selalu mengingat fungsi manusia sebagai khilafah ‘ilal ardh akan menciptakan motivasi positif dalam setiap perbuatan. Janganlah melampaui batas dalam mengejar sesuatu yang fana sebab Allah tempat kembali sesungguhnya bagi manusia. Ikhlas dalam mengemban amanah dan selalu istiqomah dalam perbuatan akan menghindarkan diri dari kemunafikan.
Kamis, 20 Desember 2007
berpikir kritis
Prolog.
Ditengah gejolak pergerakan yangterjadi didunia kampus ternyata banyak sekali indikasi yang menunujukkan adanya keganjilan dalam proses yang biasanya dikatakan sebagai sebuah proses “pembelajaran” tersebut. Para aktifis yang menjadi aktor-aktor pergerakan mahasiswa tersebut ternyata banyak yang memanfaatkan lembaga maupun organisasi yang dinaunginya sebagai sebuah alat untuk mengejar kepentingan sesaat yang sifatnya pribadi. Label “aktifis” yang dipakai oleh para mahasiswa ternyata tidak dapat menjadi sebuah tolok ukur bagi kecerdasannya,malah lebih sebagai identitas palsu dalam mengakses keberbagai struktur yang harusnya belum boleh untuk dimasukinya. Sebagai seorang intelektual tantunya ini merupakan suatu hal yang sangat mengecewakan bagi perkembangan intelektual mahasiswa yang seharusnya dapat menjadi kontrol sosial maupun sebagai pembaharu (agent of change)bagi bangsa.Kita terkadang heran dan takjub (bingung) melihat tokoh-tokoh mahasiswa sekarang yang pada umumnya lebih mementingkan karir organisasinya ketimbang memikirkan bagaimana agar dapat menyelesaikan kuliahnya. Mungkinkita bertanya “ada apa dengan mereka(para aktifis)”?. Untuk itu saya perluuntuk sedikit mengembangkan sebuah wacana untuk berpikir kritis bagi kita dalam menyikapi dunia akademis yangakhir-akhir ini berubah menjadilebih “praktis” dari yang seharusnya.
Mahasiswa dan kampus.
Mahasiswa sebagai seorang pelajar tentunya dituntut untuk dapat menyelesaikan kuliah nya dengan memuaskan dan nantinya dapat mengaktualisasikan ilmunya kemasyarakat atau dengan pekerjaannya,sebagai pelaku dunia akademis mahasiswa juga harus dapat merumuskan ide-ide dan ilmu yang dirasa bermanfaat bagi dunia kademik itusendiri, proses belajar mengajar harus dapat berkesinambungan dan terealisasi dengan baik untuk mencapai keunggulan sarjana yang nantinya dihasilkan oleh kampus. Sebagai kontrol sosial mahasiswa juga tidak perlu terlalu terlibat dan terbawadalam “kepentingan” kelompok atau pribadi yang ada dikampus, justru kerjasamalah yang paling dibutuhkan antara semua pihak yang terlibatdidalam dunia akademis ini. Jadi mahasiswa harus lebih memusatkan dirinya kedalam kesibukan akademis daripada mengurusi hal-hal yang bukanlah urusannya.Mahasiswa juga harus lebih cerdas dalam menyikapi sebuah perkembangan yang ada tetapi bukan lah berarti mahasiswa harus ikut terbawa dalam suasana yang sengaja diciptakan oleh kalangan-kalangan yang mempunyai “kepentingan”. Jika ada yangterasa salah maka mahasiswa harus berani dalam mengungkapkan dan memperbaikinya, hal ini diperlukan untuk sebuah masa depan kampus yanglebih baik tetapi tidak ikut arus kekuatan untuk menyelamatkan diri sendiri saja. Oleh karena itu mahasiswa harus mengerti akan posisinya sebagai kalangan intelektual yang dinamis bukanlah “kambing congek” yang hanya tau “makan” saja. Aktifis mahasiswa jangan sampai terjebak dalam suasana “pembodohan” terselubung dalam sebuah proses yang mengatasnamakan demokrasi, karena justru pembodohan itu dapat dengan mudah direalisasikan kedalam proses demokrasi yang susah untuk dibatasi ruang lingkupnya.Sikap para aktifis mahasiswa haruslebih inklusif dan bukan lah eksklusif sebab sikap ekslusif hanya membawa kedalam sebuah suasana tertutup dan mencegah adanya keterbukaan dalam setiap perkembangan yang terjadi. Jangan pernah menjadi orang yangselalu menutupi kelemahan dalam jaketkeagungan, jangan tutupi ketidakmampuan dengan alasan-alasan retoris sebab itu akan membawa kehancuran bagi lembaga yang dinaungi.
Kekuatan mahasiswa.
Kekuatan mahasiswa sekarang ini adalahkekuatan mahasiswa yang dapat dibeli,kata seorang kawan saya sesama aktifiskepada saya. Saya bisa menebak alasannya berkata seperti itu karana memangbanyak pergerakan mahasiswa yangterkadang mencurigakan dalam menyikapihal-hal yang katanya menyangkutkepentingan bersama, mahasiswa aktifmenghadiri undangan maupun acara-acaraParpol maupun acara-acara seremonial(yang tidak ada hubungannya dengan akademis)
ada apa dengan mu mahasiswa?
Ditengah gejolak pergerakan yangterjadi didunia kampus ternyata banyak sekali indikasi yang menunujukkan adanya keganjilan dalam proses yang biasanya dikatakan sebagai sebuah proses “pembelajaran” tersebut. Para aktifis yang menjadi aktor-aktor pergerakan mahasiswa tersebut ternyata banyak yang memanfaatkan lembaga maupun organisasi yang dinaunginya sebagai sebuah alat untuk mengejar kepentingan sesaat yang sifatnya pribadi. Label “aktifis” yang dipakai oleh para mahasiswa ternyata tidak dapat menjadi sebuah tolok ukur bagi kecerdasannya,malah lebih sebagai identitas palsu dalam mengakses keberbagai struktur yang harusnya belum boleh untuk dimasukinya. Sebagai seorang intelektual tantunya ini merupakan suatu hal yang sangat mengecewakan bagi perkembangan intelektual mahasiswa yang seharusnya dapat menjadi kontrol sosial maupun sebagai pembaharu (agent of change)bagi bangsa.Kita terkadang heran dan takjub (bingung) melihat tokoh-tokoh mahasiswa sekarang yang pada umumnya lebih mementingkan karir organisasinya ketimbang memikirkan bagaimana agar dapat menyelesaikan kuliahnya. Mungkinkita bertanya “ada apa dengan mereka(para aktifis)”?. Untuk itu saya perluuntuk sedikit mengembangkan sebuah wacana untuk berpikir kritis bagi kita dalam menyikapi dunia akademis yangakhir-akhir ini berubah menjadilebih “praktis” dari yang seharusnya.
Mahasiswa dan kampus.
Mahasiswa sebagai seorang pelajar tentunya dituntut untuk dapat menyelesaikan kuliah nya dengan memuaskan dan nantinya dapat mengaktualisasikan ilmunya kemasyarakat atau dengan pekerjaannya,sebagai pelaku dunia akademis mahasiswa juga harus dapat merumuskan ide-ide dan ilmu yang dirasa bermanfaat bagi dunia kademik itusendiri, proses belajar mengajar harus dapat berkesinambungan dan terealisasi dengan baik untuk mencapai keunggulan sarjana yang nantinya dihasilkan oleh kampus. Sebagai kontrol sosial mahasiswa juga tidak perlu terlalu terlibat dan terbawadalam “kepentingan” kelompok atau pribadi yang ada dikampus, justru kerjasamalah yang paling dibutuhkan antara semua pihak yang terlibatdidalam dunia akademis ini. Jadi mahasiswa harus lebih memusatkan dirinya kedalam kesibukan akademis daripada mengurusi hal-hal yang bukanlah urusannya.Mahasiswa juga harus lebih cerdas dalam menyikapi sebuah perkembangan yang ada tetapi bukan lah berarti mahasiswa harus ikut terbawa dalam suasana yang sengaja diciptakan oleh kalangan-kalangan yang mempunyai “kepentingan”. Jika ada yangterasa salah maka mahasiswa harus berani dalam mengungkapkan dan memperbaikinya, hal ini diperlukan untuk sebuah masa depan kampus yanglebih baik tetapi tidak ikut arus kekuatan untuk menyelamatkan diri sendiri saja. Oleh karena itu mahasiswa harus mengerti akan posisinya sebagai kalangan intelektual yang dinamis bukanlah “kambing congek” yang hanya tau “makan” saja. Aktifis mahasiswa jangan sampai terjebak dalam suasana “pembodohan” terselubung dalam sebuah proses yang mengatasnamakan demokrasi, karena justru pembodohan itu dapat dengan mudah direalisasikan kedalam proses demokrasi yang susah untuk dibatasi ruang lingkupnya.Sikap para aktifis mahasiswa haruslebih inklusif dan bukan lah eksklusif sebab sikap ekslusif hanya membawa kedalam sebuah suasana tertutup dan mencegah adanya keterbukaan dalam setiap perkembangan yang terjadi. Jangan pernah menjadi orang yangselalu menutupi kelemahan dalam jaketkeagungan, jangan tutupi ketidakmampuan dengan alasan-alasan retoris sebab itu akan membawa kehancuran bagi lembaga yang dinaungi.
Kekuatan mahasiswa.
Kekuatan mahasiswa sekarang ini adalahkekuatan mahasiswa yang dapat dibeli,kata seorang kawan saya sesama aktifiskepada saya. Saya bisa menebak alasannya berkata seperti itu karana memangbanyak pergerakan mahasiswa yangterkadang mencurigakan dalam menyikapihal-hal yang katanya menyangkutkepentingan bersama, mahasiswa aktifmenghadiri undangan maupun acara-acaraParpol maupun acara-acara seremonial(yang tidak ada hubungannya dengan akademis)
ada apa dengan mu mahasiswa?
Selasa, 18 Desember 2007
the man is as he thinks
Di dalam sebuah tulisan Soe Hok Gieyang berjudul “siapakah saya?”, Gie pernah melukiskan pengalaman nya menonton sebuah film cekoslovakia yang menceritakan tentang seorang seorang penjaga gudang yang sebenarnya adalah seorang dokter. Dia menolong seorang korban perang dengan mengambil resiko bahwa dia dapat ditangkap karena melakukan hal itu. Tetapi ketika sang dokter di tanya oleh yang menangkapnya, sang dokter pun berkata : “the man is as he thinks,you can change it” (seorang manusia adalah seperti apa yang dipikirkannya,kau tak dapat merubah hal itu).Banyak peristiwa dan hal yang serupakejadian yang digambarkan oleh film tersebut yang masih banyak terjadi didunia ini, hanya saja setting dan para lakon nya saja yang berubah. Sebuah keidealisan manusia yang dibawanya dari lahir adalah sebuah kejujuran yang tulus yang memang tak dapatdirubah dengan begitu mudah. Walauterkadang begitu banyak godaan sertakepentingan yang dapat menghilangkan semua keidealisan seorang manusia.Pada kenyataannya banyak hal-hal ataupun motivasi dari seseorang untuk melakukan sesuatu yang mungkin tidak dapat di mengerti jika kita hanya melihat dari satu sisi saja. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan olehsang “idealitor” memang terkadang terlihat berlebihan dan sama sekalitak berorientasi kepada keuntungan(profit). Dorongan nurani serta moralitas yang tinggi sangat dapat mempengaruhi dari tindakan yang menjadikan seseorang sebagai pahlawan. Sepenggal kisah ini juga menyimpulkan bahwa manusia terkadang dihadapkankepada pilihan-pilihan, dan pilihanyang paling baik adalah pilihan yang sesuai dengan keinginan kita sendiri.Jiwa dokter yang menjadi penjaga gudang tiba-tiba bangun dan berkatabahwa “aku adalah seorang dokter”sehhingga sang penjaga gudang (yangsebenarnya adalah dokter) memutuskanuntuk menolong orang yang sedang sakittersebut. Pilihan ini memperlihatkansebuah pilihan yang dipilih olehseseorang dengan berlandaskan kepadanurani seorang manusia.Manusia ideal adalah manusia beragamayang bebas, bertindak dengan memiliki moralitas dan menggunakan nurani mereka. Manusia yang hidup danmenjalani kehidupannya sesuai denganperintah orang lain adalahmanusia “terpenjara” yang dipaksamembunuh hati nuraninya dan bertindakseperti boneka.“saya kan Bawahan, yah ikut perintah Atasan dong”, adalah kalimat yangtetap digunakan sebagai alasan ketika seorang bawahan ditanya mengapa diamelakukan hal-hal yang jelas-jelasmerupakan sebuah manipulasi. Dia hanyabisa mengikuti apa perintah atasannya tanpa pernah bisa mengikuti hati nurani nya lagi. dia adalah “sample”dari sebagian besar manusia yang adadi dunia ini.Seorang ketua/Fungsionaris DPP atauDPD Ormas atau pun OKM (organisasi kemahasiswaan, istilah gue) yangdijadikan sekretaris eksekutif,anggota eksekutif dan lain-lain darisebuah partai membiarkan dirinyadiperalat oleh bapak-bapak di partai,dia terpaksa meninggalkan nuraninya dan menjadi sebuah alat untukmenyalurkan nafsu, hasrat dankepentingan politik dari sebuah sumber kekuasaan yang juga mungkin sumber keuangan baginya.Atau seorang aktifis yang selalu patuhdan taat kepada Dekanat maupunRektorat sebab ia telah menjadi seorang dosen di sebuah perguruan tinggi yang juga tempat dimana ia menuntut ilmu, lalu menggunakan pengaruhnya untuk membungkam danmemberikan sebuah pengetahuan yang salah kepada adik-adik junior diorganisasinya, bahwa pemerasanterhadap mahasiswa itu adalah sesuatu yang benar dan hal-hal lainnya. Atauseorang dosen pintar yang menganut prinsip “asal bapak senang saya siap untuk melaksanakan”, dan jika ditanyamengapa beliau melaksanakan hal-hal manipulasi, ia hanya bisaberkata “saya kan pekerja, saya gak tahu politik, yah saya ikut atasandong!”.Manusia Indonesia terlalu banyak merasionalisasikan kepengecutan nya dengan kepatuhan, hanya terdiam danbahkan malah ikut terlibat didalam sebuah kesalahan dengan mengatasnamakan “orang kecil”, “orang bawahan”.Orang yang selalu berpikiran sempitdan selalu merasionalisasikan kepengecutannya adalah orang yangtelah membunuh hati nuraninya, dia menjadi seseorang yang mungkin didalampikiranya bahwa “aku adalah sepertiini” maka dia akan seperti itu dantidak dapat menemukan siapa sebenarnya diri nya.Kapan kita punya pilihan jika kitabelum pernah menentukan pilihantersebut. Kapan kita bisa melihatkebenaran jika kita tak sanggupberpisah dari kesalahan.
Mari kita bertanyaApakah saya ini antek partai?Apakah saya ini antek seseorang?Apakah saya ini antek setan?Atau lebih Ringkas bahwa saya adalah antek uang!Kemana uang, yang jelas kesanalah saya!
Mari kita bertanyaApakah saya ini antek partai?Apakah saya ini antek seseorang?Apakah saya ini antek setan?Atau lebih Ringkas bahwa saya adalah antek uang!Kemana uang, yang jelas kesanalah saya!
Senin, 17 Desember 2007
heran
heran saya dengan kondisi manusia saat ini. manusia tidak lagi berpikir bahwa mereka akan mati dan akan dihisab nantinya di alam barzah. manusia tetap saja berbuat kejahatan dimuka bumi. dan mereka kebanyakan melakukan nya dengan sadar. kemunafikan dan kebejatan dilakukan dengan senang hati demi tujuan sesaat. lucu ya....
maaf ini komentar sementara, maklum perdana.......
nanti pasti lebih heboh lagi
maaf ini komentar sementara, maklum perdana.......
nanti pasti lebih heboh lagi
Langganan:
Komentar (Atom)