Rabu, 19 Maret 2008
menaklukkan Sinabung
MENAKLUKKAN GUNUNG SINABUNG
Pada pertengahan tahun 2004, ketika saya masih semester 5 pada fakultas ekonomi universitas muhammadiyah sumatera utara, saya dan teman-teman satu lokal berangkat menuju tanah karo yakni daerah pegunungan dengan sebuah misi yang telah kami rencanakan beberapa bulan sebelumnya. Misi yang telah kami rencanakan tersebut yaitu misi untuk mendaki salah satu gunung yang ada di daerah kabanjahe-berastagi tersebut. Dan gunung yang menjadi pilihan kami adalah gunung yang mempunyai ketinggian yang sangat cukup menantang bagi semangat muda kami.
Sebagai kepala rombongan (kebetulan saya adalah relator bagi lokal saya), tentunya segala persiapan dan perencanaan sudah saya susun sebaik mungkin. Mulai dari perlengkapan sampai logistic telah saya buat daftar kebutuhan yang pas dan cukup untuk keperluan selama4 hari. Namun itu saja tidak cukup karena belum ada satu pun dari rombongan kami yang memiliki pengalaman dalam mendaki gunung, bahkan ada yang belum pernah kemping. Untuk itu saya mencari beberapa anggota tambahan dalam mewujudkan misi kami itu.
Dua minggu sebelum keberangkatan, saya menghubungi teman lama saya yang memang pernah beberapa kali mendaki gunung sinabung. Teman saya itu bersedia sebab dia juga telah memutuskan untuk berangkat sebelumnya dengan seorang temannya. Saya pun gembira karena rencana saya akhirnya bias berjalan.
Saya dan teman-teman yang berangkat ada delapan orang ditambah dua orang lagi yang saya rekrut terakhir, mereka terdiri dari empat orang wanita dan enam orang laki-laki yaitu : Firman, Dedi, Ilyas, Mahadir, Husin, Ian, Fitri, rina, yesi, gembul dan saya sendiri sehingga total anggota tim ada sebelas orang.
Kira-kira pukul 09.00 wib kami sampai di kaki gunung sinabung yakni sebuah daerah yang terletak di dekat sebuah danau yaitu Danau Lau kawar. Kami mulai mendirikan tenda dan kira-kira pukul 10.00 wib, tenda kami sudah berdiri walaupun mendirikan tenda tersebut hanya dibantu dengan penerangan beberapa buah obor serta sinter (lampu yang terbuat dari botol bekas dan sumbu).
Setelah briefing selama satu jam kami pun mengambil keputusan untuk memulai perjalanan pada pukul 01.00 wib dini hari itu juga, dengan pertimbangan jika perjalanan dapat ditempuh selama 4 jam maka kami akan sampai di puncak gunung tepat sebelum matahari terbit. Selesai briefing kami pun mulai mengumpulkan perlengkapan untuk medaki gunung ketika malam hari yaitu selain perlengkapan mendaki sederhana seperti air minum, makanan, jaket, sepatu, kami juga mulai mengumpulkan sumber cahaya seperti senter, obor, dan lain-lain.
Setelah semua yang dibutuhkan dapat dikumpulkan, kami pun memulai perjalanan kami dipandu oleh Ian sebagai orang yang berpengalaman dengan gunung sinabung. Dengan berjalan berkelompok dan beriringan kami mengikuti langkah demi langkah yang dipimpin oleh Ian sebagai pemandu, kami tidak berjalan dengan terlalu cepat sebab di antara kami ada beberapa orang wanita yang menjadi anggota kelompok. Dari sebelas orang, yang ikut mendaki hanya sembilan orang karena mahadir dan rina tidak ikut dengan alasan masih kecapekan.
Sesampainya di shelter III kami beristirahat sejenak sambil meminum air yang kami bawa dari tenda kami, selain itu aeorang wanita di antara kami mulai merasa kelelahan dan hamper menyerah, namun setelah diyakinkan dia pun setuju untuk melanjutkan perjalanan yang sudah “tanggung” itu. Kami pu teka menyangka bahwa akhirnya di setiap shelter kami berhenti untuk beristirahan sebab satu persatu anggota tim mulai kelelahan. Tentu saja perhentian demi perhentian sangat menyita waktu dan kami pun sampai di sebuah daerah yang memiliki sumber air untuk beristirahat lagi sampai matahari mulai terbit menandakan pagi telah tiba.
Walau kecewa karena kami tidak lagi bisa melihat matahari terbit dari puncak gunung, kami memutuskan untuk tetap meneruskan perjalanan kami untuk menaklukkan gunung sinabung tersebut. Dan tepat pukul 07.25 Wib kami sampai di puncak dengan sangat girang. Firman dan Dedi mulai membuka bekal makanan untuk disanta sebagai sarapan, sementara saya dan teman-teman lain pergi berkeliling puncak gunung untuk menikmati pemandangan yang indah sambil mengambil Gamabar denga Kamera yang kami bawa sebagai kenang-kenangan sekaligus bukti bahwa kami telah sampai di puncak gunung Sinabung.
Rasa senang yang kami rasakan di atas puncak gunung sinabung akhiranya membayar segala keleahan yang kami rasakan selama dalam perjlanan untuk sampai kepuncak gunung itu. Setelah puas dan beristirahat yang cukup, tepat pada pukul 12.00 kami pun memulai perjalanan untuk kemabli ke kaki gunung untuk bermalam disana selama dua malam lagi sebelum pulang kembali ke Medan.
Perjalan pulang tidak lah seberat perjalanan kami untuk mencapai puncak, perjalan terasa ringan karena jalan yang menurun mempercepat langkah kaki dan mengurangi rasa lelah kami yang memang rata-rata fisik anggota Tim sudah lemah akibat mendaki. Tetapi kami mengalami kendala yang cukup berat ketika Fitri, anggota Tim kami yang wanita mengalami kelelahan yang sangat hebat dan membuat dia Pingsan di dalam perjalanan Pulang yakni di daerah Shelter III. Sebagian dari kami pun panic dengan kondisi yang menimpa kami. Saya dan Ian pun semapt kebingungan denga kondisi ini dan kami pun megambil keputusan untuk membagi Tim dalam Dua kelompok. Kelompok pertama yang terdiri dari Ilyas, Firman dan saya Sendiri tetap berada di Shelter III Gunung Sinabung untuk tatap bersama Fitri sedangkan Anggota Tim yang lain berada di dalam kelompok II yang terus melanjutkan perjalanan ke kaki gunung Sinabung untuk mencari pertolongan dengan meminta bantuan kepada Pihak Tim SAR Gunung Sinabung.
Dua jam berlalu tetapi belum ada tanda-tanda pertolongan yang terlihat dan kebetulan tidak ada Tim pendakian lain yang mendaki pada hari itu (kami mendaki tidak di hari libur sehingga tidak banyak orang tim pendaki lain). Firman pu mulai terserang kedinginan dan hamper pingsan, sehingga saya pun sempat panic dan mulai menggosok tangan nya menjaga tatp hangat agar tidak pingsan, lalu saya menyuruh Ilyas untuk segera berjalan sambil berteriak mencari pertolonagan tentu saja upaya ini gagal sebab memang tidak ada orang. Dengan kondisi tubuh yang mulai melemah saya dan Firman mengambil keputusan untuk berusaha meneruskan perjalanan dengan bergantian membopong Fitri dari pada kami menunggu dan terserang hawa dingin yang mulai menyiksa fisik.
Kira-kira pukul 15.00 saya melihat ada dua orang sedang berjalan kearah kami, dan dengan suara yang serak dan dipaksakan saya pun berteriak minta tolong. Syukurlah dua orang yang berjalan kearah kami itu memang Tim SAR yang mendaki untuk mencari dan menolong kami. Setelah melihat kondisi Fitri, kedua orang Ti SAR yaitu Robi dan Thomas mulai membuat Tandu darurat yang dibuat dengan mengaggabungkan kain sarung yang kami bawa dengan batang pohon yang di tebang oleh Thomas disekitar tempat kami beristirahat.
Tandu pun selesai dibuat dan kami memulai perjalanan kami dengan bergantian untuk mengangkat tandu. Kondisi fisik yang lemah serta membawa orang sakit dengan tandu sangatlah menyita waktu dan tenaga sehingga sampai waktu isya kami belum juga sampai di kaki gunung. Hal ini rupanya menjadi kekhawatran bagi anggota Tim SAR yang lain dan bang Boby salah satu anggota Tim SAR ikut menyusul kami dan bertemu dengan kami ketika kami mulai mendekati kaki gunung. Dengan Senter yang dibawanya, langkah kami semakin mudah dan cepat.
Pukul 09.00 kami pun sampai di kaki gunung dan Tim SAR pun telah menyiapkan Tenda untuk beristirahat yang cukup nyaman bagi kami terutama untuk Fitri yang sakit. Dengan obat-obatan dan makanan secukupnya kami lalu di suruh beristirahat di Tenda Tim SAR. Teman-teman kami sangat senang melihat kami kembali dengan selamat walaupun sempat terjadi sedikit adu mulut antara Firman dan Dedi akibat lamanya pertolongfan sampai.
Keesokan pagi nya saya terbangun dengan badan yang lebih segar dan segera mendatangi tenda untuk mencari sisa makanan untuk di santap, maklum dari semalam saya belum makan. Selesai makan saya pun mengajak kawan-kawan untuk briefing guna mempersiapkan perjalan pulang menuju medan. Usai briefing masing-masing anggota pun mulai menggulung tenda dan mengumpulkan barang-barang, sementara saya dan Firman mendatangi Tenda Tim SA untuk berpamitan dan berterima kasih atas usaha mereka menolong kami.
Pada pertengahan tahun 2004, ketika saya masih semester 5 pada fakultas ekonomi universitas muhammadiyah sumatera utara, saya dan teman-teman satu lokal berangkat menuju tanah karo yakni daerah pegunungan dengan sebuah misi yang telah kami rencanakan beberapa bulan sebelumnya. Misi yang telah kami rencanakan tersebut yaitu misi untuk mendaki salah satu gunung yang ada di daerah kabanjahe-berastagi tersebut. Dan gunung yang menjadi pilihan kami adalah gunung yang mempunyai ketinggian yang sangat cukup menantang bagi semangat muda kami.
Sebagai kepala rombongan (kebetulan saya adalah relator bagi lokal saya), tentunya segala persiapan dan perencanaan sudah saya susun sebaik mungkin. Mulai dari perlengkapan sampai logistic telah saya buat daftar kebutuhan yang pas dan cukup untuk keperluan selama4 hari. Namun itu saja tidak cukup karena belum ada satu pun dari rombongan kami yang memiliki pengalaman dalam mendaki gunung, bahkan ada yang belum pernah kemping. Untuk itu saya mencari beberapa anggota tambahan dalam mewujudkan misi kami itu.
Dua minggu sebelum keberangkatan, saya menghubungi teman lama saya yang memang pernah beberapa kali mendaki gunung sinabung. Teman saya itu bersedia sebab dia juga telah memutuskan untuk berangkat sebelumnya dengan seorang temannya. Saya pun gembira karena rencana saya akhirnya bias berjalan.
Saya dan teman-teman yang berangkat ada delapan orang ditambah dua orang lagi yang saya rekrut terakhir, mereka terdiri dari empat orang wanita dan enam orang laki-laki yaitu : Firman, Dedi, Ilyas, Mahadir, Husin, Ian, Fitri, rina, yesi, gembul dan saya sendiri sehingga total anggota tim ada sebelas orang.
Kira-kira pukul 09.00 wib kami sampai di kaki gunung sinabung yakni sebuah daerah yang terletak di dekat sebuah danau yaitu Danau Lau kawar. Kami mulai mendirikan tenda dan kira-kira pukul 10.00 wib, tenda kami sudah berdiri walaupun mendirikan tenda tersebut hanya dibantu dengan penerangan beberapa buah obor serta sinter (lampu yang terbuat dari botol bekas dan sumbu).
Setelah briefing selama satu jam kami pun mengambil keputusan untuk memulai perjalanan pada pukul 01.00 wib dini hari itu juga, dengan pertimbangan jika perjalanan dapat ditempuh selama 4 jam maka kami akan sampai di puncak gunung tepat sebelum matahari terbit. Selesai briefing kami pun mulai mengumpulkan perlengkapan untuk medaki gunung ketika malam hari yaitu selain perlengkapan mendaki sederhana seperti air minum, makanan, jaket, sepatu, kami juga mulai mengumpulkan sumber cahaya seperti senter, obor, dan lain-lain.
Setelah semua yang dibutuhkan dapat dikumpulkan, kami pun memulai perjalanan kami dipandu oleh Ian sebagai orang yang berpengalaman dengan gunung sinabung. Dengan berjalan berkelompok dan beriringan kami mengikuti langkah demi langkah yang dipimpin oleh Ian sebagai pemandu, kami tidak berjalan dengan terlalu cepat sebab di antara kami ada beberapa orang wanita yang menjadi anggota kelompok. Dari sebelas orang, yang ikut mendaki hanya sembilan orang karena mahadir dan rina tidak ikut dengan alasan masih kecapekan.
Sesampainya di shelter III kami beristirahat sejenak sambil meminum air yang kami bawa dari tenda kami, selain itu aeorang wanita di antara kami mulai merasa kelelahan dan hamper menyerah, namun setelah diyakinkan dia pun setuju untuk melanjutkan perjalanan yang sudah “tanggung” itu. Kami pu teka menyangka bahwa akhirnya di setiap shelter kami berhenti untuk beristirahan sebab satu persatu anggota tim mulai kelelahan. Tentu saja perhentian demi perhentian sangat menyita waktu dan kami pun sampai di sebuah daerah yang memiliki sumber air untuk beristirahat lagi sampai matahari mulai terbit menandakan pagi telah tiba.
Walau kecewa karena kami tidak lagi bisa melihat matahari terbit dari puncak gunung, kami memutuskan untuk tetap meneruskan perjalanan kami untuk menaklukkan gunung sinabung tersebut. Dan tepat pukul 07.25 Wib kami sampai di puncak dengan sangat girang. Firman dan Dedi mulai membuka bekal makanan untuk disanta sebagai sarapan, sementara saya dan teman-teman lain pergi berkeliling puncak gunung untuk menikmati pemandangan yang indah sambil mengambil Gamabar denga Kamera yang kami bawa sebagai kenang-kenangan sekaligus bukti bahwa kami telah sampai di puncak gunung Sinabung.
Rasa senang yang kami rasakan di atas puncak gunung sinabung akhiranya membayar segala keleahan yang kami rasakan selama dalam perjlanan untuk sampai kepuncak gunung itu. Setelah puas dan beristirahat yang cukup, tepat pada pukul 12.00 kami pun memulai perjalanan untuk kemabli ke kaki gunung untuk bermalam disana selama dua malam lagi sebelum pulang kembali ke Medan.
Perjalan pulang tidak lah seberat perjalanan kami untuk mencapai puncak, perjalan terasa ringan karena jalan yang menurun mempercepat langkah kaki dan mengurangi rasa lelah kami yang memang rata-rata fisik anggota Tim sudah lemah akibat mendaki. Tetapi kami mengalami kendala yang cukup berat ketika Fitri, anggota Tim kami yang wanita mengalami kelelahan yang sangat hebat dan membuat dia Pingsan di dalam perjalanan Pulang yakni di daerah Shelter III. Sebagian dari kami pun panic dengan kondisi yang menimpa kami. Saya dan Ian pun semapt kebingungan denga kondisi ini dan kami pun megambil keputusan untuk membagi Tim dalam Dua kelompok. Kelompok pertama yang terdiri dari Ilyas, Firman dan saya Sendiri tetap berada di Shelter III Gunung Sinabung untuk tatap bersama Fitri sedangkan Anggota Tim yang lain berada di dalam kelompok II yang terus melanjutkan perjalanan ke kaki gunung Sinabung untuk mencari pertolongan dengan meminta bantuan kepada Pihak Tim SAR Gunung Sinabung.
Dua jam berlalu tetapi belum ada tanda-tanda pertolongan yang terlihat dan kebetulan tidak ada Tim pendakian lain yang mendaki pada hari itu (kami mendaki tidak di hari libur sehingga tidak banyak orang tim pendaki lain). Firman pu mulai terserang kedinginan dan hamper pingsan, sehingga saya pun sempat panic dan mulai menggosok tangan nya menjaga tatp hangat agar tidak pingsan, lalu saya menyuruh Ilyas untuk segera berjalan sambil berteriak mencari pertolonagan tentu saja upaya ini gagal sebab memang tidak ada orang. Dengan kondisi tubuh yang mulai melemah saya dan Firman mengambil keputusan untuk berusaha meneruskan perjalanan dengan bergantian membopong Fitri dari pada kami menunggu dan terserang hawa dingin yang mulai menyiksa fisik.
Kira-kira pukul 15.00 saya melihat ada dua orang sedang berjalan kearah kami, dan dengan suara yang serak dan dipaksakan saya pun berteriak minta tolong. Syukurlah dua orang yang berjalan kearah kami itu memang Tim SAR yang mendaki untuk mencari dan menolong kami. Setelah melihat kondisi Fitri, kedua orang Ti SAR yaitu Robi dan Thomas mulai membuat Tandu darurat yang dibuat dengan mengaggabungkan kain sarung yang kami bawa dengan batang pohon yang di tebang oleh Thomas disekitar tempat kami beristirahat.
Tandu pun selesai dibuat dan kami memulai perjalanan kami dengan bergantian untuk mengangkat tandu. Kondisi fisik yang lemah serta membawa orang sakit dengan tandu sangatlah menyita waktu dan tenaga sehingga sampai waktu isya kami belum juga sampai di kaki gunung. Hal ini rupanya menjadi kekhawatran bagi anggota Tim SAR yang lain dan bang Boby salah satu anggota Tim SAR ikut menyusul kami dan bertemu dengan kami ketika kami mulai mendekati kaki gunung. Dengan Senter yang dibawanya, langkah kami semakin mudah dan cepat.
Pukul 09.00 kami pun sampai di kaki gunung dan Tim SAR pun telah menyiapkan Tenda untuk beristirahat yang cukup nyaman bagi kami terutama untuk Fitri yang sakit. Dengan obat-obatan dan makanan secukupnya kami lalu di suruh beristirahat di Tenda Tim SAR. Teman-teman kami sangat senang melihat kami kembali dengan selamat walaupun sempat terjadi sedikit adu mulut antara Firman dan Dedi akibat lamanya pertolongfan sampai.
Keesokan pagi nya saya terbangun dengan badan yang lebih segar dan segera mendatangi tenda untuk mencari sisa makanan untuk di santap, maklum dari semalam saya belum makan. Selesai makan saya pun mengajak kawan-kawan untuk briefing guna mempersiapkan perjalan pulang menuju medan. Usai briefing masing-masing anggota pun mulai menggulung tenda dan mengumpulkan barang-barang, sementara saya dan Firman mendatangi Tenda Tim SA untuk berpamitan dan berterima kasih atas usaha mereka menolong kami.
Langganan:
Komentar (Atom)