Jumat, 15 Februari 2008

hari valentine

“HARI VALENTINE”,

Sebuah Industri Propaganda Yang Menghasilkan Uang

(Oleh : Ikhvan Fuady, SE)

Hari valentine adalah hari yang konon katanya adalah hari kasih sayang, banyak spekulasi atau ceritera rakyat (folk story) yang menyangkut asal usul dari hari kasih sayang ini. Hari valentine diartikan sebagai sebuah hari yang dianggap hari yang mewakili penanggalan masehi dalam menyatakan kasih sayang seseorang terhadap yang dikasihinya.

Seperti yang kita ketahui, tanggal 14 februari adalah hari kasih sayang tersebut. Pada tanggal ini banyak pasangan kekasih atau pun tidak merayakan hari kasih sayang dengan berbagai macam cara. Pada hari valentine ini pula para valentiners (orang-orang yang merayakan valentine) membeli atau mencari sesuatu yang mereka anggap dapat dijadikan sebuah wujud dari kasih sayang itu.

Hampir diseluruh negara pada bagian dunia, hari valentine telah membudaya dan menjadi sebuah budaya baru bagi para remaja dinegara-negara tersebut. Tentunya hal ini terjadi karena perkembangan informasi yang membawa isu hari valentine ini cukup berkembang.

Segala hal yangdianggap “berbau valentine” pun ikut diborong orang, hadiah yang unik, coklat, bunga, sampai makan malam romantis dianggap sebagai wujud dalam mengungkapkan hari kasih sayang. Tentu saja tanpa disadari budaya yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh orang-orang di negara dunia ketiga itu malah menjadi suatu hal yang pasti.

Di Indonesia misalnya, kalau kita pergi ke mall atau pusat perbelanjaan, kita akan melihat banyak hiasan dan pernak-pernik valentine yang disebar di mana-mana, belum lagi produk yang ditawarkan menyangkut hari valentine itu, yang pada intinya demikian luar biasanya “selling” (penjualan) yang dilakukan para pelaku bisnis terhadap barang-barang “valentinan”.

Tayangan Televisi pun hampir setiap hari selama seminggu sebelum dan sesudah hari valentine terus menayangkan isu hari valentine itu. Dengan demikian sosialisasi dari valentine pun semakin hebat dan ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat. Dan secara langsung atau tidak para stasiun TV swasta ikut andil mengiklankan betapa hebatnya hari valentine itu.

TV sebagai sebuah cabang budaya baru (budaya TV) tentunya adalah faktor penting sebagai pembawa peran penyebar sebuah kebudayaan. Apalagi ekspos yang dilakukan cukup hebat, akibatnya para penonton akan hanyut dan terbawa untuk mengakui eksistensi dari pemberitaan tersebut.

Perkembangan isu valentine secara langsung atau tidak, tentunya membawa perkembangan yang signifikan dalam dunia bisnis barat. Produsen coklat, kartu ucapan, dan produk-produk lain akan mendapatkan keuntungan lebih dikarenakan meningkatnya penjualan. Dan bisnis tahunan ini adalah sebuah bisnis yang menjanjikan bagi para pelaku ekonomi dan bisnis dalam mencari keuntungan dengan cara apapun (profit : at all cost)

Dilain pihak, tidak sedikit pula komunitas yang mencela dan menjelekkan hari yang dipopulerkan dunia barat itu, malah beberapa tahun terakhir komunitas tersebut tidak hanya datang dari non-barat tetapi juga dari dunia barat itu sendiri. Bahkan di Amerika banyak pula perusahaan “kartu ucapan” (greetings Corp), sengaja membuat kartu ucapan yang isinya mencela hari valentine tersebut. Tentu saja hal ini pun akan menjadi tren baru bagi para remaja dinegara-negara “makmum” (pengikut).

Tren membenci hari valentine yang lebih dahulu dikumandangkan oleh komunitas tertentu ternyata dilirik sebagai sebuah peluang bisnis oleh para pelaku bisnis di barat. Ini tak ubah nya seperti tren yang dilancarkan mengenai hari valentine yang kini telah menjadi isu yang menguntungkan.

Tentunya hal ini akan membawa dampak baru bagi negara dunia ketiga, yaitu berkembangnya bisnis baru. Mengapa saya katakan bisnis baru?, tentunya komunitas pembenci hari valentine akan banyak pula tertarik untuk ikut mensosialiasikan celaan terhadap hari valentine itu, dan peluang bisnis inilah yang dimanfaatkan oleh para produsen “barang anti valentine” dimasa datang, yang konon umumnya para produsen barang valentine maupun barang anti valentine tersebut umumnya adalah perusahaan barat (Amerika).

Sebuah isu propaganda telah berhasil menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan, dan praktek seperti ini saya rasa telah banyak dilakukan oleh para pelaku bisnis yang kreatif di negara-negara yang menjadi kiblat perekonomian. Dalam membuka sebuah peluang bisnis baru maka para orang kreatif di negara-negara tersebut menciptakan dan mengambil keuntungan dari isu-isu serta propaganda yang mana isu tersebut terkadang tidak begitu jelas asalnya.

Namun negara-negara dunia ketiga sebagai “makmum” (pengikut) memiliki masyarakat yang cenderung hanya mengikuti perkembangan zaman dan terkadang sering dibodohi oleh majunya dunia informasi. Filter tidak lagi ada dan masuknya propaganda tidak lagi ada yang bisa menghalanginya.

Jadi suka atau tidak suka, benci atau tidak benci, semakin diangkat kepermukaan maka isu valentine akan menjadi sebuah industri yang sangat menguntungkan bagi dunia barat.

(Penulis Adalah Mantan Ketua Umum IMM Dan Alumni Fakultas Ekonomi UMSU / Calon Ketua PC IMM Medan)

Minggu, 10 Februari 2008

WAR IDEOLOGI

Kekuatan fisik tidak lagi menjadi hal ketakutan akhir, ideologi yang di tembakkan lebih berbahaya dari amunisi atau rudal yang ditembakkan.